62 Pride 29 Juli 2020, 15:05
Asal Mula Musik Dangdut di Indonesia
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Petunjuk hubungi admin
Untuk dapat mengubungi admin kuka.co.id anda akan di bawa menuju halaman pusat bantuan di halaman tersebut bagian kanan bawah anda akan melihat gambar di bawah ini :

Untuk menuju pusat bantuan klik tombol "Ya, ke pusat bantuan" dan Jika anda ingin tetap berada di halaman ini klik tombol "Tidak, tetap disini"
62 Pride 29 Juli 2020, 15:05
Asal Mula Musik Dangdut di Indonesia
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Dangdut is the music of my country, my country oh my country ~
Â
Pasti #autonyanyi ya kalo baca lirik di atas, ketauan deh angkatan Project Pop-nya nih. Musik dangdut identik banget sama Indonesia walopun sekilas terdengar mirip sama alunan musik India karena suara gendang sama goyangan pinggul. Perjalanan musik dangdut ternyata punya sejarah yang panjang, jauh sebelum penamaan musik ini terjadi. Tarik menarik popularitas musik ini antara biduan Indonesia dan Malaysia juga sempat terjadi, meski akhirnya musisi dangdut tanah air tampil mendominasi.
Â
Jika didengarkan dengan seksama, musik dangdut merupakan perpaduan berbagai alat musik Indonesia, Arab, India, dan Barat yang dimainkan bersama-sama. Kemudian seiring berjalannya waktu, harmoni musik ini dipengaruhi oleh orkestra barat serta irama samba dan rumba. Pengaruh itu akhirnya membawa musik ini masuk ke dalam tradisi melayu yang berkembang di daerah yang jauh dari ibu kota dan dulunya merupakan tempat tinggal para musisi dan kritikus musik, terutama di daerah Padang dan Medan. Identik banget kan sama budaya Melayunya!
Â
Musik dangdut berakar dari musik melayu pada tahun 1940-an. Irama melayu sangat kental dengan unsur aliran musik dari India dan gabungan dengan irama musik dari Arab. Unsur tabuhan gendang yang merupakan bagian unsur dari musik India digabungkan dengan cengkok penyanyi dan harmonisasi dengan irama musiknya merupakan suatu ciri khas dari Irama Melayu merupakan awal dari Irama Melayu ke Dangdut.Â
Â
Waktu itu belum ada istilah dangdut, orang-orang menyebutnya dengan nama musik Melayu-Deli (Balai Bahasa Yogyakarta, Dari Tradisi ke Modernisasi, 2009). Katanya sih musik Melayu-deli mirip dengan keroncong. William H. Frederick (1982) dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture, bahkan menyebut musik keroncong di era itu dikatakan sebagai orkes melayu. Orkes Melayu atau yang biasa disingkat O.M. inilah yang menjadi istilah untuk menamakan grup atau kelompok musik ber-genre dangdut, bahkan sampai saat ini. Para penggemar dangdut tentunya akrab dengan grup-grup macam O.M. Monata, O.M. Sera, O.M. Sagita, O.M. Palapa, O.M. Latansa, dan sejenisnya. Nah udah mulai nyambung ya ternyata istilah OM itu lekat banget sama sejarah musik dangdut mula-mula.
Â
Ciri khas musik dangdut generasi pertama dari artis dan seniman yang mulai berkembang di tahun 50-60-an adalah irama yang mereka sebut sebagai ‘chalte’. Chalte atau calte adalah irama memukul gendang gaya India yang bisa dicermati dengan bunyi ‘tak-tung, dang-dut, .... tak-tung, dang-dut’. Cara memukul gendang seperti ini yang paling banyak didapati dalam rekaman-rekaman artis, seperti Ellya Khadam, A Rafiq, Ida Laila, hingga Rhoma Irama. Dan ternyata Rhoma Irama-lah yang mempopulerkan kata ‘dangdut’. Popularitas musik dangdut banyak memicu tanggapan negatif dari pemusik irama non dangdut. Musik dangdut dianggap sebagai musik kampungan. Pemusik irama non dangdut memandang dangdut sebagai musiknya kalangan bawah. Lagu "Terajana" adalah cara Rhoma Irama membalas cemoohan dari kelompok lain yang menganggap musiknya kampungan. "Dangdut suara gendang ... rasa ingin berdendang.." Petikan lagu itu adalah kata yang pertama muncul istilah dangdut yang kemudian menjadi label pada genre ini.
Â
Memasuki masa 80-an hingga 90-an kepeloporan Rhoma Irama masih sangat kuat, tetapi karena keputusannya untuk mengambil sikap politik yang berbeda membuat dia tidak bisa tampil di televisi nasional. Pada periode inilah musik dangdut yang dibawakan oleh Meggy Zakaria, Mansyur S, Muhsin Al Atas, Elvy Sukaesih, hingga Camelia Malik mengisi popularitas di televisi. Banyak perubahan dalam dunia musik rekaman karena saat itu mulai menggunakan pita kaset, untuk menikmati lagu dangdut masih harus mendengarkan radio & membeli kasetnya.
Â
Setelah adanya perkembangan teknologi, muncul perekaman audio dalam bentuk yang lebih ringkas atau teknologi mp3, saat ini industri rekaman perlahan mulai runtuh, tidak cuma di Indonesia tapi secara global. Genre musik dangdut koplo pun lahir, para musisi di daerah mendapatkan cara selain rekaman melaui kaset. Banyak grup daerah malah mendorong agar para pembajak lagu merekam pertunjukan keliling mereka dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Perlahan pun komunitas pecinta lagu dangdut kembali menjadi solid karena genre ini semakin populer cara memukul gendang dangdut dengan warna lokal yang kemudian dikenal sebagai Dangdut Koplo atau Kendang Kempul pada masa awal kemunculannya.
Â
Saat ini di era digital, musik dangdut terakulturasi dengan budaya. Musik dangdut sudah tidak identik dengan musik kalangan bawah, para biduan pun sudah tidak terlalu seronok & terbuka tampilannya, bahkan musik dangdut sudah dipandu dengan musik koplo & pop sehingga semakin digemari oleh kalangan muda, lirik bahasa Jawa tentang percintaan putus nyambung balikan ditinggal pacaran lagi pun makin digandrungi para sobat ambyar, walaupun baru-baru ini dunia musik campur sari berduka karena kepergian salah satu maestronya alm Didi Kempot yang di tahun 2019-2020 ini sukses mengumpulkan sobat ambyar dari berbagai penjuru Indonesia untuk kembali mencintai musik lokal. Musik dangdut benar-benar tak lekang oleh waktu ya, selalu ada pecintanya karena alunan musiknya yang selalu membuat kita ingin bergoyang tarik manggggg ~
Baca Artikel Lain
Bisnis Lokal 31 Agustus 2020, 09:58
Kemiskinan Harus Dikurangi Dari Sekarang, Semangat Nan Mulia Dari Yaya...
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Kemiskinan masih menjadi momok bagi bangsa Indonesia yang kerap menghantui karena kasusnya di negeri ini tidak kunjung selesai. Menjadi negeri kepulauan yang rakyatnya tersebar di mana-mana, Read more...
Bisnis Lokal 31 Agustus 2020, 09:54
Cara Mudah Merdekakan Bangsa & Bumi dengan Cinta Kepada Alam
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Bumi telah lama menghangat bahkan memanas. Salju di Puncak Jaya, Papua pun sudah mulai meleleh sejak 2008. Menurut sumber di merdeka.com, pada pendakian tahun 2008, salju telah hilang sepanjang 200 Read more...
62 Pride 28 Agustus 2020, 14:30
Presiden Jokowi Meresmikan Bandara Internasional Yogyakarta
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Pada hari Jumat, 28 Agustus 2020, Presiden Joko Widodo bertolak ke Yogyakarta dalam rangka kunjungan kerja sekaligus melakukan peresmian Yogyakarta International Airport (YIA) serta pengoperasian Read more...
Komunitas & Sosial 27 Agustus 2020, 10:48
SANGGAR ANAK ALAM: Mendidik dengan Hati
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
 Sanggar Anak Alam (selanjutnya disebut Salam) yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta merupakan satu dari beberapa tempat pendidikan berbasis pendekatan dengan alam. Dikepalai oleh Yudhistira Read more...
Bisnis Lokal 26 Agustus 2020, 11:27
Punya Usaha? Urus PIRT Semakin Mudah
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
 Usaha makanan ringan memang nggak ada matinya, lho! Kenapa? Karena selama masih hidup, orang selalu butuh makan guys. Apalagi hari gini camilan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari membuka Read more...
62 Pride 29 Juli 2020, 15:05
Asal Mula Musik Dangdut di Indonesia
Penulis : Ku Ka
Editor : Ku Ka
Dangdut is the music of my country, my country oh my country ~
Â
Pasti #autonyanyi ya kalo baca lirik di atas, ketauan deh angkatan Project Pop-nya nih. Musik dangdut identik banget sama Indonesia walopun sekilas terdengar mirip sama alunan musik India karena suara gendang sama goyangan pinggul. Perjalanan musik dangdut ternyata punya sejarah yang panjang, jauh sebelum penamaan musik ini terjadi. Tarik menarik popularitas musik ini antara biduan Indonesia dan Malaysia juga sempat terjadi, meski akhirnya musisi dangdut tanah air tampil mendominasi.
Â
Jika didengarkan dengan seksama, musik dangdut merupakan perpaduan berbagai alat musik Indonesia, Arab, India, dan Barat yang dimainkan bersama-sama. Kemudian seiring berjalannya waktu, harmoni musik ini dipengaruhi oleh orkestra barat serta irama samba dan rumba. Pengaruh itu akhirnya membawa musik ini masuk ke dalam tradisi melayu yang berkembang di daerah yang jauh dari ibu kota dan dulunya merupakan tempat tinggal para musisi dan kritikus musik, terutama di daerah Padang dan Medan. Identik banget kan sama budaya Melayunya!
Â
Musik dangdut berakar dari musik melayu pada tahun 1940-an. Irama melayu sangat kental dengan unsur aliran musik dari India dan gabungan dengan irama musik dari Arab. Unsur tabuhan gendang yang merupakan bagian unsur dari musik India digabungkan dengan cengkok penyanyi dan harmonisasi dengan irama musiknya merupakan suatu ciri khas dari Irama Melayu merupakan awal dari Irama Melayu ke Dangdut.Â
Â
Waktu itu belum ada istilah dangdut, orang-orang menyebutnya dengan nama musik Melayu-Deli (Balai Bahasa Yogyakarta, Dari Tradisi ke Modernisasi, 2009). Katanya sih musik Melayu-deli mirip dengan keroncong. William H. Frederick (1982) dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture, bahkan menyebut musik keroncong di era itu dikatakan sebagai orkes melayu. Orkes Melayu atau yang biasa disingkat O.M. inilah yang menjadi istilah untuk menamakan grup atau kelompok musik ber-genre dangdut, bahkan sampai saat ini. Para penggemar dangdut tentunya akrab dengan grup-grup macam O.M. Monata, O.M. Sera, O.M. Sagita, O.M. Palapa, O.M. Latansa, dan sejenisnya. Nah udah mulai nyambung ya ternyata istilah OM itu lekat banget sama sejarah musik dangdut mula-mula.
Â
Ciri khas musik dangdut generasi pertama dari artis dan seniman yang mulai berkembang di tahun 50-60-an adalah irama yang mereka sebut sebagai ‘chalte’. Chalte atau calte adalah irama memukul gendang gaya India yang bisa dicermati dengan bunyi ‘tak-tung, dang-dut, .... tak-tung, dang-dut’. Cara memukul gendang seperti ini yang paling banyak didapati dalam rekaman-rekaman artis, seperti Ellya Khadam, A Rafiq, Ida Laila, hingga Rhoma Irama. Dan ternyata Rhoma Irama-lah yang mempopulerkan kata ‘dangdut’. Popularitas musik dangdut banyak memicu tanggapan negatif dari pemusik irama non dangdut. Musik dangdut dianggap sebagai musik kampungan. Pemusik irama non dangdut memandang dangdut sebagai musiknya kalangan bawah. Lagu "Terajana" adalah cara Rhoma Irama membalas cemoohan dari kelompok lain yang menganggap musiknya kampungan. "Dangdut suara gendang ... rasa ingin berdendang.." Petikan lagu itu adalah kata yang pertama muncul istilah dangdut yang kemudian menjadi label pada genre ini.
Â
Memasuki masa 80-an hingga 90-an kepeloporan Rhoma Irama masih sangat kuat, tetapi karena keputusannya untuk mengambil sikap politik yang berbeda membuat dia tidak bisa tampil di televisi nasional. Pada periode inilah musik dangdut yang dibawakan oleh Meggy Zakaria, Mansyur S, Muhsin Al Atas, Elvy Sukaesih, hingga Camelia Malik mengisi popularitas di televisi. Banyak perubahan dalam dunia musik rekaman karena saat itu mulai menggunakan pita kaset, untuk menikmati lagu dangdut masih harus mendengarkan radio & membeli kasetnya.
Â
Setelah adanya perkembangan teknologi, muncul perekaman audio dalam bentuk yang lebih ringkas atau teknologi mp3, saat ini industri rekaman perlahan mulai runtuh, tidak cuma di Indonesia tapi secara global. Genre musik dangdut koplo pun lahir, para musisi di daerah mendapatkan cara selain rekaman melaui kaset. Banyak grup daerah malah mendorong agar para pembajak lagu merekam pertunjukan keliling mereka dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Perlahan pun komunitas pecinta lagu dangdut kembali menjadi solid karena genre ini semakin populer cara memukul gendang dangdut dengan warna lokal yang kemudian dikenal sebagai Dangdut Koplo atau Kendang Kempul pada masa awal kemunculannya.
Â
Saat ini di era digital, musik dangdut terakulturasi dengan budaya. Musik dangdut sudah tidak identik dengan musik kalangan bawah, para biduan pun sudah tidak terlalu seronok & terbuka tampilannya, bahkan musik dangdut sudah dipandu dengan musik koplo & pop sehingga semakin digemari oleh kalangan muda, lirik bahasa Jawa tentang percintaan putus nyambung balikan ditinggal pacaran lagi pun makin digandrungi para sobat ambyar, walaupun baru-baru ini dunia musik campur sari berduka karena kepergian salah satu maestronya alm Didi Kempot yang di tahun 2019-2020 ini sukses mengumpulkan sobat ambyar dari berbagai penjuru Indonesia untuk kembali mencintai musik lokal. Musik dangdut benar-benar tak lekang oleh waktu ya, selalu ada pecintanya karena alunan musiknya yang selalu membuat kita ingin bergoyang tarik manggggg ~
Baca Artikel Lain
Bisnis Lokal 31 Agustus 2020
Kemiskinan Harus Dikurangi Dari Sekarang, Semangat Nan Mulia Dari Yaya...
Penulis: Ku Ka
Editor : Ku Ka
Bisnis Lokal 31 Agustus 2020
Cara Mudah Merdekakan Bangsa & Bumi dengan Cinta Kepada Alam
Penulis: Ku Ka
Editor : Ku Ka
62 Pride 28 Agustus 2020
Presiden Jokowi Meresmikan Bandara Internasional Yogyakarta
Penulis: Ku Ka
Editor : Ku Ka
Komunitas & Sosial 27 Agustus 2020
SANGGAR ANAK ALAM: Mendidik dengan Hati
Penulis: Ku Ka
Editor : Ku Ka
Artikel Terbaru